Senin, 30 April 2012

Memperingati Hari Pendidikan Nasional

Memperingati Hari Pendidikan Nasional
Tut Wuri Handayani ungkapan aslinya yaitu Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, yang berarti didepan memberikan contoh, ditengah membangun semangat, dibelakang memberi dorongan.

Masih ingat dengan semboyan ini? Siapa sebenarnya tokohnya yang mencetuskan semboyan tersebut?

Yaitu Ki Hajar Dewantara dengan nama aslinya Raden Mas Soewardi Suryaningrat. Lahir di Jogjakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Meninggal di Jogjakarta tanggal 26 April 1959. Berkat gigihnya beliau memperjuangkan Pendidikan Indonesia pada masa penjajahan Belanda, maka  melalui surat keputusan Presiden RI No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959 dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Bahkan yang lebih menggembirakan beliau dijadikan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.
Untuk  memajukan pendidikan Indonesia Beliau mendirikan Sekolah Taman Siswa pada tanggal 3 Juli1922 di Jogjakarta. Tujuannya untuk memberikan kesempatan kepada pribumi untuk memperoleh pendidikan seperti para priyayi atau orang-orang Belanda.  Selain itu Kihajar Dewantara juga rajin menulis, yang isinya selalu memprotes pemerintah Belanda yang selalu menghambat tumbuhnya pendidikan di Indonesia. Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.
Dalam kancah perjuangan pendidikan itu beliau selalu menggunakan istilah Tut Wuri Handayani . Dan sampai saat ini sitilah tersebut masih tetap digunakan sebagai semboyan Pendidikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.
Untuk menghargai jasa Ki Hajar Dewantara dalam memperjuangkan kemajuan pendidikan Indonesia, maka setiap tanggal 2 Mei selalu di peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional Indonesia. Tanggal peringatan tersebut diambil sesuai dengan tanggal lahir Ki Hajar Dewantara.
Itulah sekilas tentang perjalanan Bapak Pendidikan Indonesia.

Kemudian bagaimana dengan pendidikan kita sekarang ini?

Perjuangan kita dalam memajukan Pendidikan sekarang ini tidak seperti jaman penjajahan Belanda. Bangsa Indonesia sekarang tinggal menikmati hasilnya. Kita tidak perlu menggunakan bambu runcing lagi, tetapi kita gunakan otak dan pena, untuk memikirkan dan mengapresiasikan segala bentuk kemampuan kita untuk memajukan Negara tercinta ini. Generasi penerus bangsa sekarang ini tinggal belajar dengan sebaik-baiknya tanpa harus melakukan peperangan lagi seperti dulu.
Memang pendidikan kita saat ini belum seperti yang kita harapkan, masih banyak elemen-elemen yang harus diperbaiki. Baik itu dari segi infrastrukturnya maupun segi pengelolanya sendiri. Semua kebijakan-kebijakan yang diambil harusnya sejalan dengan keinginan rakyat Indonesia. Dan semata-mata hanya untuk kepentingan bangsa bukan untuk kepentingan pribadi.
Permasalahan pendidikan harus disikapi secara serius oleh semua pihak baik para orangtua siswa, para teknisi pendidikan dan pemerintah. Ada baiknya duduk dalam satu meja untuk mencari solusi yang tepat dalam memajukan pendidikan Nasional. Apabila diajak secara langsung membahas tentang hal itu, lebih baik dan masing-masing mempunyai rasa tanggungjawab untuk menjawab tantangan bangsa ini kedepan dalam membangun pendidikan Indonesia yang lebih maju, bermartabat dan setara dengan bangsa lain dalam ilmu pengetahuan.
Sebagai warga negara yang selalu menghargai jasa pahlawannya, tentunya kita harus mengapresiasikan momentum ini dengan sebaik-baiknya. Bukan sekedar melaksakan upacara seremonial belaka. Tetapi harus dibarengi dengan suatu keyakinan dalam diri kita, bahwa pendidikan negara ini harus terus berkembang dan dapat sejajar dengan negara maju.
Ada beberapa hal yang harus kita ingat dan dilakukan dalam melanjutkan perjuangan Ki Hajar Dewantara diantaranya adalah :
  1. Sebagai unsur-unsur yang berada di dunia pendidikan, bekerja dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan pendidikan Indonesia, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan.
  2. Jika sebagai pendidik, lakukan tugas kita sebagai pendidik sesuai dengan porsi mengajar yang telah diberikan. Laksanakan kewajiban ini dengan tulus dan ikhlas sebelum menuntut haknya.
  3. Sebagai orang tua, kepentingan anak dalam pendidikan harus tetap diutamakan.
  4. Sebagai seorang pelajar, remaja  atau generasi penerus bangsa, belajar dengan sebaik-baik, dan menghindari segala bentuk kenakalan remaja yang dapat merugikan diri sendiri.
Memang untuk menjadi bangsa yang mandiri dan dihargai oleh negara lain, bukan hal yang gampang. Tetapi jika niat baik kita ini dilaksanakan dengan sepenuh hati, bukan tidak mungkin negara ini dapat dijadikan sebagai barometer pendidikan dan ilmu pengetahuan oleh dunia Internasional.(Aan S).

DIRGAHAYU PENDIDIKAN INDONESIA


0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More